134 ?
Read More!
Reblog »
braydaaan:
being that one person that puts their 100% into everything and gets nothing back, really sucks.
let them go~ bye!
1 ?
Read More!
Reblog »
Hari itu aku seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula dan ditimpuk payung, oleh tiga orang berbeda. Bayangkan, dalam 12 jam, keteguhan mental diuji berulang-ulang oleh 3 (baca: tiga) orang yang cukup dekat denganku! Ada yang backstabbing, memarahi tanpa penjelasan, juga menunjukkan sikap putus asa. What a grief.
Sebuah latihan terus-menerus yang sangat penting dilakukan dalam hubungan dengan sesama manusia adalah ‘memaafkan dan ikhlas’. Semua mesti dilakukan agar kita bisa move on (move forward = maju ke depan) dan tidak terganggu dengan masalah tersebut selamanya.
Untuk bisa memaafkan, kita harus ingat bahwa tiap orang pasti punya kebaikan lain, meski dia sangat menyebalkan dalam satu hal. Seharusnya semua kebaikannya itu bisa menutupi kekurangannya di mata kita. Sebuah pelajaran penting telah dialami seorang teman yang sangat berpandangan negatif pada seorang rekannya. Rekan tersebut tidak pernah benar di matanya. Mungkin pernah ada rasa sakit hati, lalu menjadikan ia trauma setiap bertemu sang rekan. Ia baru menyesal saat rekan tersebut wafat dalam kondisi sakit parah. Ditambah itu, saat melayat barulah ia melihat sisi kehidupan keluarga rekannya yang cukup menyedihkan. Penyesalan datang terlambat. Andaikan ia tidak begitu keras pada sang rekan, tentu ia tidak merasa bersalah seperti itu seumur hidupnya.
Lalu setelah memaafkannya dengan mengingat kebaikan lain, kita mesti belajar ikhlas. Ikhlas kalau kita tidak dapat menyenangkan hati semua orang, kalau tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna, kalau Allah yang lebih berkuasa menentukan apa-apa yang baik untuk kita. Pengalaman mengajarkan kalau terlalu ingin sesuatu, meski itu tak baik untuk diri, Allah tetap memberikan, dengan konsekwensi yang berat. Tetapi, kalau malah berlaku ikhlas saat sesuatu tak berjalan sebagaimana mestinya sambil tak berkeluh-kesah maka hal terbaik dan menjadikan jiwa tenang yang terjadi.
Kemudian, kita harus ‘move on’. Tidak melihat-lihat, mengukur-ukur, menimbang-nimbang atau meninjau ulang perasaan kita tentang sesuatu, saat membantu proses ini. Bulatkan tekad untuk tidak marah dan kecewa pada orang tersebut tanpa alasan yang jelas dan saintifik. Kemudian lakukan semuanya tanpa beban seperti mulai dari titik nol. Tetap ramah, membantu jika diperlukan dan tidak takut trauma kalau ia bersikap menyebalkan lagi. Mengapa? Karena kita telah dapat mengatur rasa kecil hati dan sakit hati berkat latihan memaafkan dan ikhlas. Niscaya kita tidak akan berlebihan lagi merespon orang tersebut karena telah memahami proses ini dan lebih kuat menghadapinya jika suatu hari ia mengecewakan lagi.
Hal-hal dunia tidak semestinya dianggap sesuatu yang besar sehingga kita murka dan kecewa jika tidak mendapatkannya. Coba mundur sejenak dari keadaan tak kondusif. Cari lingkungan kondusif lain untuk sementara, menjaga jarak dengan bijaksana, melakukan hal-hal positif dan inspiratif yang harus dikejar, sehingga kita tetap moving forward, bukan moving backward.
0 ?
Read More!
Reblog »
Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah…
hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar…
Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada…
Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar,
jelas dan terang…
Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta…
Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain…
melebur jadi satu.
Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil…Paling panjang di antara yang lainnya…
Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro.. terpantul-pantul dengan keras…
Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu..
Sayangku padamu seperti mad thobi’I dalam quran… Buanyaaakkk beneerrrrr….
semoga dalam hubungan., kita ini kayak idgham bilaghunnah ya,cuma berdua, lam dan ro’ ..
Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. dia atau aku?
Meski perhatianku ga terlihat kaya alif lam syamsiah,
cintaku pdmu spt alif lam Qomariah, terbaca jelas…
kau & aku spt Idghom Mutaqooribain..perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya…
Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim,terhenti sempurna diakhir hayat…
Sama halnya dgn Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti,seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.
Layaknya huruf Tafkhim,Namamu pun bercetak tebal di fikiranku
Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro’ saja,begitu juga aku yang hanya utkmu.
Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun ……♥ ♥ ♥